Yayasan Sosial Atma Jyothi

DEWA AYYAPPA DAN KEHADIRANNYA DI DUNIA

Deskripsi ini disusun dari berbagai sumber oleh: N Siuaji Raja

Pendahuluan

Kuil di bukit Sabarimalai yang didedikasikan untuk Dewa Ayyappa berada di negara bagian  Kerala di India Selatan. Nama bukit ini terhubung dengan kisah Tapaswini (petapa wanita) yang agung yang bernama Sabari sebagaimana disinggung dalam kisah epik Ramayana. Kesucian bukit Sabari dianggap sama seperti Varanasi (Benares) dan sungai Pampa yg ada disana dengan sungai Gangga.

 

Dewa Ayyappa (Hariharaputhra) muncul dari zat ilahi yg terdapat dalam Mohini (inkarnasi perempuan Dewa Vishnu) dan Dewa Shiva, sesuai uraian yang ada dalam Skandam, Lalithopakyanam, Brahmananda Puranam pada zaman Kretha Yuga.  

 

Dengan adanya sejumlah kisah yang berbeda tentang Dewa Ayyappa, maka Ayyappa juga dikenal antara lain dengan nama Sastha, Bhuthanatha, Dharmasastha (sesuai Puranas), Hariharan, Ayyanar dan Manikantha.  

 

Di wilayah Kulathupuzha,  Ayyappa muncul sebagai seorang anak. Di Aryyankavvu,  Ia lebih digambarkan sbg seorang bujangan. Di Achankovil,  Ia tampil sebagai Sastha/Dharmasastha dengan Poorna dan Pushkala (sebagai istri-istrinya). Sementara, di Sabarimalai, Ia dikenal sebagai Ayyappa/Manikantha dalam posisi sebagai yogi, melakukan meditasi bagi kepentingan semua umat.

 

Referensi tentang Sastha muncul di berbagai Puranas dan Upa-Puranas selama tiga Yugas, termasuk di dalam Ramayana dan Mahabaratha.

 

Kelahiran Manikantha di Dunia

Diceritakan bahwa Raja Pandalam atau Raja Rajasekara karena tidak mempunyai keturunan, berdoa kepada Dewa Shiva untuk dikaruniai anak.

 

Sementara itu, pada saat yang sama, di tempat yang berdekatan, Mahishasuran  (Mahisha - kerbau, asuran - Raksasa), anak dari  Ramban, melakukan ‘dhavam’ kepada Dewa Brahma untuk mendapatkan berkah agar tiada seorang pun yang bisa membunuhnya. Hal tersebut kemudian dikabulkan oleh Brahma. Namun, Mahishasuran setelah mendapatkan kesaktian itu menyalahgunakan kehebatannya itu sehingga menjadi angkuh, brutal, merusak dan juga membunuh.    

 

Melihat hal itu, para Dewa berkesimpulan bahwa hanya kekuatan suci yang dapat membunuh Mahishasuran. Mereka mendekati Chandikadevi  (Mahishasuramardhini) yang kemudian mengakhiri hidup Mahishasuran.

 

Karambigai atau Mahishi (wujud berbentuk kerbau wanita) adalah putri dari Karamba (abang dari Ramban) yang bermaksud membalas dendam kepada para Dewa yang telah mengakibatkan tewasnya Mahishasuran. Dewa Brahma mengabulkan semua permohonan Mahishi, kecuali tentang hidupnya yang abadi  (immortality), di mana disebutkanNya bahwa Mahishi nanti akan tewas di tangan seorang anak  lelaki berumur 12 tahun yg di dalam diriNya terdapat dua zat positif yang berasal dari Vishnu (Hari) dan Shiva (Hara).

 

Ia memiliki pembantu layaknya letnan seperti Karuppan, Veeran, Madurai Veeran, Kathavarayan - Bhootha Kanas, berdasarkan Shilpa Sastra, dan Dhyana Shlokas.

 

Diceritakan kemudian bahwa Dharma Shasta mengambil avatara Manikantha dengan berkah dari Shiva dan Vishnu, sebagaimana diceritakan sebelumnya, dan meninggalkan Kailash. Sang Dewa mengambil bentuk seorang anak dan berbaring di pinggir sungai Pampa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Pandalam.

 

Ketika Ayyappa/Sastha/Manikantha berumur 12 tahun, ratu Pandalam berpura-pura sakit kepala dan menginstruksikan para tabib untuk memberikan susu harimau betina sebagai obatnya. Manikantha, ketika mendengar hal itu setuju pergi ke hutan untuk mengambilnya. Selama ekspedisi sang Dewa di hutan, Ia bertemu ashura (demon) Mahishi dan membunuhnya. Manikantha kemudian kembali ke Pandalam dengan sekelompok harimau. Melihat bentuk yang sebenarnya dari Manikantha (Vishwarupa), Raja Pandalam/Raja Rajasekara  menyadari adanya salah satu visi dari Tuhan Yang Maha Esa di dunia.

 

Sang Raja membuat banyak ornamen dan garmen untuk penobatan Manikanta atas kembaliNya Ia dari hutan, termasuk dengan susu macan tutul, tetapi Manikantha menolak.

 

Setelah melengkapi misinya itu dalam bentuk manusia, Manikanta mohon merasa perlu mohon diri dari Raja. Tetapi Raja meminta agar Manikantha tetap berada  dalam jurisdiksi Pandalam untuk selamanya. Memenuhi permintaan Raja, Manikantha menembakkan panah ke hutan yang lebat, yang mengenai pohon beringin yang besar tepat di atas Sabarimalai. Menunjuk tempat itu,  Manikanta meminta sang Raja agar membangun sebuah Kuil bagiNya. Pohon itu disebut ’Saram kuthi Aal" (the tree struck by Arrow).Raja Pandalam kemudian membangun kuil dengan 18 langkah (steps).

 

Signifikansi 18 Langkah

Adapun signifikansi dari 18 langkah suci menuju Dewa Ayyappa itu memiliki demikian banyak pengertian dalam filsafat Hindu.

 

Ada 18 bab dalam Bhagavad Gita; 18 Puranas; 18 teknik bertempur; 18 hari perang Kurukshethra; empat Vedas, enam Sutras, lima Indriyas (senses) dan tiga Dewa yang jumlahnya menjadi delapanbelas.

 

Ada sebuah interpretasi yang menyebut bahwa 17 langkah melambangkan 17 Vasanas (human traits) dan langkah ke-18 adalah tahapan evolusi menuju status Gnani. Kombinasi destruksi Vasanas yang buruk dan pengembangan Vasanas yang baik membuat seseorang mencapai level Gnani dengan kesucian internal dan eksternal.

 

Delapanbelas langkah juga merupakan jalan suci Jeevatma menuju Paramatma. Jeevatma harus melewati 18 kebajikan untuk menyatu dengan Paramatma. Langkah 1, 2, 3, 4, dan 5 melambangkan lima Panjendriam: (Smell, Hearing, Sight, Taste and Touch). Langkah 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, dan 13 mewakili 8 sifat Ashtaragas: Kamam, Krodham, Lobham, Moham, Madam, Matsaryam, Thanbha and Asuya. Langkah 14, 15 dan 16 merepresentasikan 3 Gunas: Thamas, Rajas and Sattva. Langkah 17 adalah simbol Avidya (tanpa pengetahuan) dan 18 simbol Vidya (pengetahuan).

 

Pasca Pembangunan Kuil di Sabarimalai

Setelah kuil dibangun, Parasurama memasang arca Ayyappa. Agasthiya melaksanakan ritual untuk membangkitkan kehadiran Sang Maha Kuasa Sastha  di dalam arca itu.

 

Sebelumnya, karena permohonan yang tulus dan gigih dari Raja Pandalam, ayah angkatNya itu, Manikanta menyarankan agar Tiruvabharanam (Jewellery) ditempatkan pada arcaNya pada hari pertama Makara Vishu setiap tahun dan Ia akan turun ke bumi pada hari itu dalam bentuk Jyoti di atas horizon.

 

Setelah itu, Manikantha menghilang. Sang Raja menjadi sangat bingung. Ia melebur dirinya dalam ingatan Manikantha dan selalu mengingat bagaimana kehadiranNya secara fisik dahulu dipuja di istana. Sage Agasthya menghibur sang Raja  dan menjelaskan secara detil tentang misi utama Sastha/Manikantha  yang telah menjadi anak angkatnya itu adalah untuk melenyapkan Mahishi dari muka bumi. Memahami hal itu dengan baik, Raja Pandalam/Raja Rajasekara kemudian pergi menuju Vanaprastha dan mencapai keabadiannya di sana.

 

Ziarah ke Sabarimalai

Manikantha mengadvokasi Bhootanatha Geetha yang memuat Karma Yoga, Bhakthi Yoga and Jnana Yoga, kepada Raja dan rakyat bagi peningkatan taraf hidup umat manusia. Manikantha/Ayyappa juga menjelaskan bagaimana ziarah  ke Sabarimalai harus dilakukan, dengan menekankan pentingnya berpuasa secara tekun untuk menyadari apa yang dapat dicapai oleh para umat dengan  'darshan Ayyappa,' yaitu tidak lain adalah Moksha.

 

Ziarah yang terpenting untuk Dewa Ayyappa ke Sabarimalai dilakukan seseorang setelah menjalani puasa selama 41 hari untuk membersihkan pikiran. Perjalanan ke sana dilakukan dengan membawa "Irumudi" (dua kompartemen tas kain). Munmudi (bagian depan) untuk membawa semua artikel puja yang dipersembahkan kepada Dewa Ayyappa dan Pinmudi (bagian belakang) diperuntukkan bagi barang-barang pribadi peziarah yang dipergunakan selama perjalanan.

 

Sabarimalai terbuka hanya untuk laki-laki dan perempuan menopause (lebih dari 50 tahun) dan gadis-gadis kecil di bawah usia 10 tahun. Para peziarah laki-laki disebut 'Ayyappa' dan peziarah wanita disebut 'Malikappuram.'

 

Mengapa wanita dewasa tidak dibenarkan ke Sabarimalai? Hal tersebut adalah karena pada suatu kesempatan,  sebelum mati, Mahishi yang memusuhi Dewa Ayyappa, jatuh hati kepadaNya dan meminta Ayyappa untuk mengawininya. Pada ketika itu Ayyappa menyebutkan bahwa  pada awatara ini, Ia tampil sebagai Manikanta, yaitu Brahmachari dan hanya akan mengawini Mahishi  ketika wanita untuk pertama kalinya datang ke bukit Sabari. Jelas disini bahwa karena memaknai dengan baik kata-kata Dewa Ayyappa itu, tiada seorang wanita yang datang ke bukit Sabari setelah itu.

 

   
     

Biasa ada sebutan Guruswamy dalam ziarah ke Sabarimalai. Panggilan itu ditujukan untuk orang tua yang telah melakukan ziarah ke Sabarimalai tidak kurang dari tujuh tahun berturut-turut. Biasanya para baktha memperlakukan Guruswamy layaknya Dewa Ayyappa sendiri. Mereka mendapatkan pengetahuan dari Guruswamy dan sekaligus melayaninya secara komprehensif. Guruswamy mengajarkan para baktha tentang Shlokas dan cara untuk melakukan puja dan bhajan. Ia akan mempersiapkan mereka secara mental dan fisik dan memimpin para peziarah agar selalu merasa aman dan nyaman dalam mencapai Sabarimalai.

 

Acara puncak di Sabarimalai adalah Makara Jothi/Vilakku, biasanya jatuh pada tanggal 14 Januari, dimana festival itu berlangsung selama tujuh hari. Semua  wilayah bukit di sini menggema dengan nyanyian 'Saranam Ayyappa'. Bintang yang tidak pernah terlihat sebelumnya tampil pada hari Makara Jothi yang terlihat sebentar di puncak bukit yang menunjukkan kehadiran Swami Ayyappa yang bermakna bahwa unsur Ayyappa hadir di sana untuk memberkahi para bhakta-Nya.

 

Seseorang dapat melihat kata-kata “Tat Twam Asi” ketika tiba di kuil Sabarimala. Kata-kata “Tat Twam Asi” bermaksud bahwa “Saya adalah anda (refleksimu),” yang dijelaskan di buku suci Sama Veda. Semua baktha Ayyappa dilihat sebagai Dewa Ayyappa itu sendiri ketika memakai rosario suci  dan melakukan disiplin puasa. Ziarah ini menggambarkan penyatuan Jeevatma menuju kebebasan abadi, yaitu Paramatma.

 

Demikian, sedikit peristiwa dari suatu tampilan suci Tuhan Yang Maha Esa di dunia ini.  

 

SWAMIYE  SARANAM   AYYAPPA .......

 

Vannakkam

Selamat datang di Website Yayasan Sosial Atma Jyothi. Website ini dikembangkan dengan tujuan untuk menjadi wadah komunikasi dan pengembangan kegiatan sosial, agama dan budaya Hindu Tamil di Indonesia. Website ini dilengkapi dengan forum yang dapat digunakan sebagai sarana diskusi. Website ini juga menyediakan sarana untuk berbagi informasi lowongan pekerjaan. Kami mengharapkan berbagai saran dan masukan untuk pengembangan website ini yang dapat disampaikan melalui Contact Us.

Login Form

Update Data Masyarakat

Lowongan Kerja